Dalam Ikhtiar yang Begitu Volatile

Di usia segini ini, belakangan saya malah ketemu dengan hal-hal yang serba di-sugar coated. Kerja keras seseorang jadi komoditas visual biar kelihatan, semua usaha yang “bekerja dalam sunyi” rasanya kalau tidak tampak oleh orang banyak, jarang diapresiasi. Semua tentang bagaimana agar usaha itu mudah ditepuk tangani. 

Media sosial, iklan, dan narasi yang memotivasi umat manusia agar bekerja seratus kali lebih keras tampil dalam bentuk konten dan validasi. Padahal bagi banyak orang—kami yang hidup tanpa privilese, ikhtiar ini tak pernah menemukan bentuk yang kukuh. Ikhtiar yang harus dijalani penuh risiko, tidak linear, dan sering kali gagal bukan karena kurang usaha, tetapi karena banyak hal tidak berpihak secara struktural. 

Pada sebuah konstelasi ruang publik hari gini, kita hidup di tengah simulakra: bentuk representasi yang menggantikan realitas senyata-nyatanya. Foto-foto yang diambil untuk memperlihatkan kisah sukses (pencapaian, pernikahan yang bahagia, prestasi yang dibanggakan) dibagi dengan sporadis, tak sedikit yang menuliskan narasi “bangkit dari nol” tapi tidak betul-betul memperlihatkan usaha di baliknya. Masalah finansial, kelelahan mental, hutang, kerja berlapis, atau kegagalan berulang yang justru malah disembunyikan. Yang tampil ke permukaan adalah hasil akhir, bukan proses yang panjang dan timpang.

Simulakra ini menciptakan standar palsu tentang seperti apa ikhtiar yang cukup bagi seorang insan manusia. Usaha ugal-ugalan, yang tidak dipresentasikan dengan menarik justru malah disembunyikan. Kerja repetitif, dan melelahkan—seperti buruh, pekerja informal, ibu rumah tangga, atau pekerja dengan jam kerja panjang—jarang diakui sebagai bentuk perjuangan yang mampu membeli mimpi estetis (yang seliweran di kanal visual).

Dalam kondisi ini, privilese lagi-lagi yang menang. Mereka yang punya jaringan, modal, dan akses lebih mudah mengubah peluang jadi hasil. Jejaring dibangun lewat keluarga, almamater, atau lingkar sosial yang sejak awal sudah kuat. Namun dalam narasi yang dipertontonkan di muka publik, keberhasilan mereka adalah hasil kerja keras personal. Struktur yang memudahkan langkah mereka tak pernah terkisahkan.

Sementara itu, orang-orang tanpa privilese dipaksa harus membuktikan dirinya. Mereka harus bekerja lebih keras, mengambil risiko lebih besar, dan bertahan hidup dengan cara yang lebih menyakitkan, seringnya sih tanpa jaminan apa pun. Ketika gagal, kegagalan itu dipersonalisasi menjadi: kamu kurang gigih berusaha, kamu kurang kreatif dalam mencipta, atau kurang berani berupaya. Padahal yang dihadapi bukan hanya tantangan secara individu, melainkan ketimpangan yang sistemik.

Ikhtiar yang volatile ini, kenapa saya bilang hari ini berbentuk simulakra karena ia melanggengkan mitos bahwa semua orang punya kesempatan yang sama. Media sosial dan industri motivasi menjual gagasan bahwa siapa pun bisa berhasil asal mau berusaha. Narasi penipuan yang terdengar optimistis, tetapi berbahaya buat mereka-mereka yag tidak bermodalkan privilese. Volatilitas ini menutup kondisi nyata soal kemiskinan struktural, upah yang tidak layak, akses pendidikan yang timpang, dan beban kerja yang tidak adil, sepanjang hidup orang-orang. Mobilitas sosial tampak utopis.

Dalam ikhtiar yang begitu volatile, banyak orang yang gagal bukan karena ia malas berusaha, atau sepanjang ia bernapas selalu berusaha untuk tegak, untuk mencobanya lagi, bahkan ia tak menyerah sampai tua. Mereka gagal karena sistem tidak memberi ruang untuk mengimplementasikan harapan pada kelas dan struktur tertentu. Ketika realitas semacam ini terus ditutupi oleh citra keberhasilan yang semu, kita sedang tersesat pada pemahaman soal kerja keras—kita sedang membiarkan ketidakadilan kelas dan struktural dibiarkan tanpa bisa dilawan.

Membongkar simulakra ikhtiar berarti mengakui bahwa tidak semua usaha berada di lintasan berdiri sama tinggi, adil dan merata. Bahwa ada orang-orang yang sejak awal berjibaku dengan hidup tapi dapatnya segitu-gitu aja, sementara yang lain melaju tanpa hambatan di jalan tol. Tanpa pengakuan ini, narasi tentang ikhtiar hanya akan menjadi alat untuk menyalahkan mereka-mereka yang lelah untuk terus disuruh berjuang.

Comments

Popular posts from this blog

Tidak Semua Orang Dianugerahi Keajegan Berpikir. Karena Menjadi Pengendali Hari ini Pun Sudah Cukup

Dua Bapak, Dua Dunia, Tiga Leksikal Gustatori

Jokpin dan Kloset