Ketika Kamu Hanya Berguna, Bukan Berarti Kamu Betulan Ada
"Kesadaran tentang eksistensi bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya.
Ia lahir dari satu titik, yang memaksa kita berhenti dan meninggalkan semuanya."
Ada suatu titik balik — seperti tetes air pada stalaktit yang menggerus batuan bertahun lamanya — ketika kamu sampai pada kelelahan yang membuatmu ingin berhenti.
Kelelahan yang tidak cuma menghentikanmu untuk berusaha tetap hidup. Lelah untuk peduli lagi. Lelah yang tiba-tiba datang dari kesadaran bahwa hadirmu selama ini, hanyalah tentang energi yang bisa kamu berikan, bukan tentang kepedulian akan hakikat kedirianmu.
Pada satu titik balik, kamu lantas ingin berhenti. Bukan berhenti hidup, tapi berhenti memberi performa — menjadi seseorang berguna, menjadi makhluk yang selalu kuat, menjadi contoh bagi orang-orang.
Manusia hidup di tengah relasi-relasi transaksional tanpa mereka sadari sepenuhnya. Seseorang menyukaimu karena kamu selalu ada untuknya, memberikan apa yang kamu bisa. Orang lain menghargaimu karena kamu selalu produktif.
Dan ada pula yang mendekatimu karena kamu adalah tempat yang paling aman dan nyaman bagi mereka untuk membagi beban — tanpa bertanya balik apakah kamu pun membutuhkan tempat yang sama.
Pada satu titik ini, rasanya kamu bukan lagi jadi manusia — kamu semata-mata adalah fungsi.
Kamu ada sejauh kamu berjalan. Kamu berarti sejauh kamu bermanfaat.
Dan ketika kelelahanmu mencapai satu titik klimaks — ketika kamu lalu berucap, "Aku tidak sanggup lagi" — yang kamu temukan adalah orang-orang yang menganggap kamu berkhianat. Tidak ada yang benar-benar menatap dirimu, sampai fungsimu betul-betul hilang.
“Bagi orang lain, kamu cuma serupa energi yang bermanfaat bagi hidup mereka. Kamu cuma tubuh kosong yang memiliki fungsi, bukan seseorang yang perlu dipedulikan karena memang kamu layak hidup.”
Lalu kamu, yang selama ini mengimani makna eksistensialisme menyadari momen di mana manusia berhadapan dengan absurditas — ketika makna yang selama ini semua orang percayai itu runtuh, dan kamu berdiri di atas reruntuhan itu dengan tangan kosong. Titik itu lalu berhenti, dan kamu tak lagi punya apa-apa.
Ketika kamu memutuskan untuk tidak lagi peduli, karena dirimu sendiri lelah memenuhi kebutuhan orang lain — itu bukan sebuah kesalahan.
Kamu merebut kembali kesendirian yang kamu yakini, kamu menyadari kalau dirimu adalah subjek, bukan objek dari kebutuhan orang lain.
Pada titik ini, kamu sudah tidak lagi peduli.
Filsuf Yunani kuno menyebutnya gnÅthi seauton. Memang tidak nyaman.
Pada dirimu, ia tumbuh dari kontradiksi, dari jarak antara bagaimana orang lain memandangmu dan bagaimana kamu memandang dirimu sendiri
Saat kamu menyadari bahwa kamu cumalah energi yang mereka butuhkan, kamu berdiri lalu pergi. Mungkin ini untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama.
Kamu mulai tak peduli lagi.
.
Comments
Post a Comment