Posts

Dua Bapak, Dua Dunia, Tiga Leksikal Gustatori

Image
Saya tumbuh dari seorang Papa, ia tidak membaca literatur feminisme atau pemberdayaan perempuan whatsoever, tidak juga mengutip Simone de Beauvoir di dinding seperti kamar saya, atau beli buku bell hooks, atau baca Fatima Mernissi, apalagi mengikuti perdebatan soal bias gender di forum-forum dialektik. Namun, ia menanamkan pada saya satu hal yang jauh lebih membekas, yaitu keberanian jadi manusia berdikari, let's say it… being a lonewolf. Dari kecil, ia mendorong saya untuk bertanya, menantang jawaban, dan melihat dunia dari berbagai sudut. Ia mengoleh-olehi buku-buku, majalah elektro dan komputer (meski ini agak aneh untuk ukuran gadis kecil), komik wayang, novel sains, dan yang paling luar biasa musik-musik dunia yang ajaib untuk telinga saya saat itu. Ia mengajak berdiskusi di meja makan, meski topiknya terlalu “serius” untuk ukuran bocah perempuan. Bagi Papa, saya adalah manusia sebelum saya adalah perempuan. Dan dari situ, tanpa sadar, ia membesarkan saya menjadi s...

SENI MENJADI SI LUCU

Image
Sebuah tata cara menjadi si paling komedi. Kamu hanya perlu mengatakan iya pada banyak orang, lalu diam-diam kamu belajar mengubur lukamu sendiri di lubang yang tak ada pusaranya, tak ada namanya. Menjadi orang baik itu mudah. Kamu hanya perlu tertawa dan melucu sedikit lebih cerdas daripada semua orang, agar mereka tidak tahu kalau kamu pun sedang hancur perlahan-lahan. Menjadi orang baik itu cukup semringah. Kamu akan sering disebut bak malaikat oleh orang-orang yang bahkan tak tahu di mana tempat tinggalmu. Kamu akan diundang ke semua keriaan, yang tak punya kursi kosong untukmu, saat kamu sudah lelah berdiri. Menjadi orang baik itu menguntungkan. Bukan untukmu, tapi untuk semua orang yang tahu kamu pantang berkata: tidak. Aku telah menjadi payung yang menunggu hujan di ubun-ubun orang lain, gelas kosong yang menunggu diisi tapi selalu diberikan pada orang baru, dan bohlam sorot yang dielu-elukan karena mampu menerangi, meski tak ada satu pun yang bertanya berapa kali ak...

I’ve Mastered The Art of Bouncing Back

Image
Sudah tahun ke-5 sejak era mental detox yang saya jalani. Sudah tahun ke-5 sejak saya kembali dari ruang kontemplasi sunyi, bernama isolasi. Orang seringkali percaya bahwa diam adalah bentuk kekalahan. Bahwa ketika memilih berhenti menulis (sementara), adalah takluk oleh rasa malas dan patah semangat, tak mampu bersaing dengan tempo dunia yang makin perkasa mempertontonkan pencapaiannya. Tapi tidak, kali ini saya tak peduli. Saya berhenti karena tahu, memaksakan diri adalah menyetir diri ini, entah menuju kemana. Saya tahu betul bagaimana rasanya menulis fiksi dengan kepala yang kosong dan hati yang tak di sana, oleh semacam ambisi samar yang memaksa agar cepat selesai ditunaikan. Bukan semata-mata karena mencintai dunia menulis. Maka saya rehat. Bukan karena menyerah, tapi karena paham. Ini bukan tentang produktivitas, bukan pula tentang writer’s block yang disalahkan seperti kambing hitam yang terlalu sering dibunuh demi menyelamatkan reputasi kreator. Saya rehat karena ada kekuatan ...

Keberanian untuk Bicara, Kesediaan untuk Mendengar

Image
Beberapa waktu lalu, seorang teman datang menemui. Bukan dalam suasana serius dengan obrolan ringan yang biasanya mengisi percakapan sehari-hari. Ia datang dengan sikap sederhana, namun memiliki keberanian yang luar biasa: ia ingin berbicara tentang kondisi mentalnya. Di tengah dunia yang sering kali menempatkan kesehatan jiwa sebagai stigma, atau cukup disampaikan dalam bisik malu-malu, keberanian teman saya ini terasa seperti cahaya kecil di sebuah lorong gelap yang konservatif. Ia tidak menyembunyikan rasa cemasnya di balik obrolan basa-basi. Ia tidak sugar coating, hidupnya yang saat itu sedang terpuruk dengan bahasa-bahasa yang dikamuflase. Ia memilih untuk bicara lugas: “saya tidak baik-baik saja”, dan bahwa beban itu sudah terlalu berat untuk ia pikul sendirian. Saya cuma bisa menyimak, dan memeluknya dengan sikap mendengarkan tanpa menyela. Bukan karena saya tidak tahu harus berucap apa, tapi karena saya tahu: di hadapan saya duduk seseorang yang sedang mempertaruhk...

pulang pada puisi

Image
pulanglah ke sunyimu tempat mimpi lebih lugu ibadahmu hanya berupa larik dan langgam pulanglah pada dekap tangis tempat pilu tak perlu ditonton dan gagasan tak pernah monoton pulanglah menuju ruang suci tempatmu menyimpan benci yang tak perlu membuat orang bergidik ngeri pulanglah pada isak dan pada tawa yang kau derai tanpa perlu dilerai yang kau pindai tanpa usah kau bingkai pulanglah pada benih yang bertumbuh tempat imajinasi tanpa keluh meski hari-harimu penuh peluh pulanglah pada puisimu yang lebih jujur tempat kau bebas memaki  dari hati, dengan menohok sampai seronok pulanglah ke rumah tempat kau ragu tanpa perlu orang lain tahu tanpa perlu mereka ikut-ikutan pilu

Oposisi Biner

Hidup berjalan sesuai mekanismenya, bergulir tanpa skenario yang dibuat-buat, meski kadang kita sibuk merancang strategi agar semua berjalan sempurna. Tapi, apalah menjadi sempurna tanpa bersikap jujur apa adanya. Bahkan hati kecil tidak bisa dibohongi.  Tadi malam, saya mendapat kabar buruk, kalau naskah saya kembali ditolak di sebuah lomba kepenulisan bergengsi. Sementara paginya, saya harus mengisi kelas menulis. Kadang, saat begini itu, imposter syndrome kembali merajai pikiran, memerintahkan otak agar menyabotase mood sepanjang hari. Tapi hujan turun sejak fajar tiba, gerimis tidak berhenti-berhenti. Saya percaya, rintik hujan menghantarkan do’a yang mustajab. Maka seharian tadi, setiap berkah kesungguhan dalam memberikan ilmu dan manfaat melewati proses yang lancar dan menyenangkan. Saya percaya bahwa alam semesta menyimpan cara kerjanya sendiri, sebuah keteraturan tersembunyi yang tak selalu bisa diterjemahkan oleh nalar yang sedang kesal atau hati yang dirundung kecewa. Tap...

Tidak Semua Orang Dianugerahi Keajegan Berpikir. Karena Menjadi Pengendali Hari ini Pun Sudah Cukup

Mungkin kamu belum pernah merasakan bagaimana rasanya tetap berpikir waras, yang kapan saja bisa luruh sedikit demi sedikit, setiap kali cobaan hidup datang dari arah yang tak disangka-sangka, tanpa aba-aba. Bisnis bangkrut, teman-teman bisnis berkhianat, bahkan diagnosa dokter terasa ‘ngeri-ngeri sedap’.  Mungkin kamu belum tahu rasanya bangun pagi bertanya-tanya, apakah hari ini akan kebas lagi atau diserang panik? Apakah hari ini kecemasan akan membunuh keinginan untuk tetap hidup? Apakah bentuk cobaan hari ini?  Karena memang kalau tidak bangun, tagihan utang di masa lalu tidak akan berhenti, orang tua menanyakan kapan transfer, dan rekening kesehatan pun semakin membengkak, belum lagi aset yang mulai hilang satu per satu. Dan dalam kekacauan seperti itu, stoikisme bukan lagi teori. Ia adalah pelampung terakhir. Apa yang bisa dilakukan ketika hidup tidak memberi waktu jeda buat sekadar mengambil napas? Ketika setiap detik adalah pengingat bahwa kamu tertinggal, terlilit, t...