Posts

Surat Untuk Anak-Anak Perempuanku

Image
Anak-anakku , Kelak kalian akan tumbuh, berjalan ke dunia yang luas dan keras, tempat suara-suara orang lain seringkali lebih kencang dari isi pikiranmu sendiri.  Dunia yang kadang membuat perempuan merasa kecil, seolah keberadaannya harus disesuaikan dengan ukuran yang sudah ditentukan—tentang bagaimana ia harus bicara, berpakaian, mencintai, bahkan bermimpi. Aku menulis surat ini agar kalian tak lupa: kalian boleh menjadi apa saja, siapa saja, selama itu adalah pilihan kalian sendiri. Jadilah dirimu yang utuh. Jangan hancur hanya karena seseorang berkata kamu terlalu pembangkang, terlalu berani, atau terlalu mandiri. Dunia akan mencoba menaklukkan kalian dengan lembut: lewat pujian yang meninabobokan, atau lewat cinta yang pelan-pelan meminta kalian untuk mengecil. Tapi ingatlah, keberanian untuk menjadi diri sendiri adalah bentuk cinta yang paling sejati—cinta pada hidup, pada perempuan yang kamu lihat setiap pagi di cermin. Hidupi mimpi-mimpimu, Nak. Jangan tunggu o...

Sebuah Pelajaran Berharga dari Calmness 101

Image
Curhat colongan ini didapat tadi malam, tentang jejaring, sikap, dan ketenangan yang lebih efektif daripada mengimani keramaian. Ada satu pertanyaan yang mampir kepada saya kemarin: “Kamu kan kenal sama dia, kok cuek? Kok, kayak nggak kenal?” Pertanyaan ini, walau tampak sederhana, sebenarnya mencerminkan logika sosial yang mendominasi zaman kita: bahwa kedekatan harus selalu ditunjukkan, bahwa jejaring lebih penting daripada sikap, dan bahwa perhatian harus diproduksi secara terus-menerus agar eksistensi tidak dipertanyakan. Di dunia yang serba bising ini, sikap cuek mudah dicap sebagai sikap lemah sebagai makhluk sosial. Padahal, bila kita mengintip wacana psikologi populer, justru sikap yang konsisten lebih menentukan kualitas hidup dibandingkan seberapa luas jejaring yang kita miliki. Daniel Goleman misalnya, melalui konsep emotional intelligence, menekankan pentingnya self-regulation dan calmness, sebuah terminologi ketenangan dalam merespons orang lain. Seseorang yang...

Dalam Wajah Biner

Image
Dalam hidup, yang segala sesuatu selalu terbagi menjadi dua dan bertolak belakang, Embun mencoba bertahan. Ia merasa dunia menyambutnya dengan hangat dan penuh harapan. Senyum orang asing bisa terasa seperti undangan masuk ke dalam sebuah kenyamanan. Pujian dan harapan bisa menjelma serupa janji setia. Dalam detik-detik itu, ia merasa utuh, dicintai tanpa syarat. Namun, tiba-tiba saja, detik berikutnya, semua runtuh. Senyum berubah sinis, tatapan berubah menjadi pengkhianatan. Ia yang meyakini kalau semua kasih sayang itu berubah palsu, muslihat yang menjebaknya agar kembali terpuruk. Dunia menyalakan cahaya untuknya lalu meninggalkannya dalam gelap gelita, di sudut antah berantah. “Kenapa kalian meninggalkanku?” serunya suatu malam di kamar sendiri. Tapi kamar itu menggemakan suara-suara lirih: mereka tidak pernah benar-benar ada, hanya bayangan yang ia ciptakan.  "Kamu layak sendiri, temanmu cuma sepi, dan jelaga di kepalamu yang akan menelanmu mati." Di kepalan...

Dua Bapak, Dua Dunia, Tiga Leksikal Gustatori

Image
Saya tumbuh dari seorang Papa, ia tidak membaca literatur feminisme atau pemberdayaan perempuan whatsoever, tidak juga mengutip Simone de Beauvoir di dinding seperti kamar saya, atau beli buku bell hooks, atau baca Fatima Mernissi, apalagi mengikuti perdebatan soal bias gender di forum-forum dialektik. Namun, ia menanamkan pada saya satu hal yang jauh lebih membekas, yaitu keberanian jadi manusia berdikari, let's say it… being a lonewolf. Dari kecil, ia mendorong saya untuk bertanya, menantang jawaban, dan melihat dunia dari berbagai sudut. Ia mengoleh-olehi buku-buku, majalah elektro dan komputer (meski ini agak aneh untuk ukuran gadis kecil), komik wayang, novel sains, dan yang paling luar biasa musik-musik dunia yang ajaib untuk telinga saya saat itu. Ia mengajak berdiskusi di meja makan, meski topiknya terlalu “serius” untuk ukuran bocah perempuan. Bagi Papa, saya adalah manusia sebelum saya adalah perempuan. Dan dari situ, tanpa sadar, ia membesarkan saya menjadi s...

SENI MENJADI SI LUCU

Image
Sebuah tata cara menjadi si paling komedi. Kamu hanya perlu mengatakan iya pada banyak orang, lalu diam-diam kamu belajar mengubur lukamu sendiri di lubang yang tak ada pusaranya, tak ada namanya. Menjadi orang baik itu mudah. Kamu hanya perlu tertawa dan melucu sedikit lebih cerdas daripada semua orang, agar mereka tidak tahu kalau kamu pun sedang hancur perlahan-lahan. Menjadi orang baik itu cukup semringah. Kamu akan sering disebut bak malaikat oleh orang-orang yang bahkan tak tahu di mana tempat tinggalmu. Kamu akan diundang ke semua keriaan, yang tak punya kursi kosong untukmu, saat kamu sudah lelah berdiri. Menjadi orang baik itu menguntungkan. Bukan untukmu, tapi untuk semua orang yang tahu kamu pantang berkata: tidak. Aku telah menjadi payung yang menunggu hujan di ubun-ubun orang lain, gelas kosong yang menunggu diisi tapi selalu diberikan pada orang baru, dan bohlam sorot yang dielu-elukan karena mampu menerangi, meski tak ada satu pun yang bertanya berapa kali ak...

I’ve Mastered The Art of Bouncing Back

Image
Sudah tahun ke-5 sejak era mental detox yang saya jalani. Sudah tahun ke-5 sejak saya kembali dari ruang kontemplasi sunyi, bernama isolasi. Orang seringkali percaya bahwa diam adalah bentuk kekalahan. Bahwa ketika memilih berhenti menulis (sementara), adalah takluk oleh rasa malas dan patah semangat, tak mampu bersaing dengan tempo dunia yang makin perkasa mempertontonkan pencapaiannya. Tapi tidak, kali ini saya tak peduli. Saya berhenti karena tahu, memaksakan diri adalah menyetir diri ini, entah menuju kemana. Saya tahu betul bagaimana rasanya menulis fiksi dengan kepala yang kosong dan hati yang tak di sana, oleh semacam ambisi samar yang memaksa agar cepat selesai ditunaikan. Bukan semata-mata karena mencintai dunia menulis. Maka saya rehat. Bukan karena menyerah, tapi karena paham. Ini bukan tentang produktivitas, bukan pula tentang writer’s block yang disalahkan seperti kambing hitam yang terlalu sering dibunuh demi menyelamatkan reputasi kreator. Saya rehat karena ada kekuatan ...

Keberanian untuk Bicara, Kesediaan untuk Mendengar

Image
Beberapa waktu lalu, seorang teman datang menemui. Bukan dalam suasana serius dengan obrolan ringan yang biasanya mengisi percakapan sehari-hari. Ia datang dengan sikap sederhana, namun memiliki keberanian yang luar biasa: ia ingin berbicara tentang kondisi mentalnya. Di tengah dunia yang sering kali menempatkan kesehatan jiwa sebagai stigma, atau cukup disampaikan dalam bisik malu-malu, keberanian teman saya ini terasa seperti cahaya kecil di sebuah lorong gelap yang konservatif. Ia tidak menyembunyikan rasa cemasnya di balik obrolan basa-basi. Ia tidak sugar coating, hidupnya yang saat itu sedang terpuruk dengan bahasa-bahasa yang dikamuflase. Ia memilih untuk bicara lugas: “saya tidak baik-baik saja”, dan bahwa beban itu sudah terlalu berat untuk ia pikul sendirian. Saya cuma bisa menyimak, dan memeluknya dengan sikap mendengarkan tanpa menyela. Bukan karena saya tidak tahu harus berucap apa, tapi karena saya tahu: di hadapan saya duduk seseorang yang sedang mempertaruhk...